Mengenaskan, Lima Penyu Mati di Dekat PLTU Bengkulu

0
75
Bangkai penyu di pantai Kulonprogo (foto: Wild Water Indonesia)

Bengkulu (Samudranesia) – Nelayan Betungan, Teluk Sepang, Kota Bengkulu, dikejutkan dengan kematian lima ekor penyu di tempat biasa mereka mencari ikan di Perairan Kota Bengkulu. Ari Anggoro, Koordinator Komunitas Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun), pertama kali menemukan bangkai satu ekor penyu di kawasan Pantai Panjang, Kota Bengkulu, pada 6 November 2019.

Satu minggu kemudian, tepatnya pada 13 November 2019, Rustam nelayan setempat menemukan dua bangkai penyu di sekitar lokasi pembuangan air bahang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara Teluk Sepang pada 6 November 2019. “Satu bangkai penyu kami serahkan ke petugas BKSDA Bengkulu untuk diautopsi,” kata Rustam seperti dikutip dari Antara, Selasa (19/11).

Dua bangkai ekor penyu kembali ditemukan di Pantai Teluk Sepang pada 18 November 2019. . “Belum pernah kejadian seperti ini terjadi di Pantai Teluk Sepang. Kami biasa mencari ikan di sini, baru ini menemukan lima ekor penyu mati dalam waktu yang tidak berjauhan,” kata Aprianto, nelayan dari Kelurahan Betungan yang kerap mencari ikan di perairan Teluk Sepang, kepada Antara, Selasa (19/11).

Ari yang ikut melakukan autopsi menyebutkan jika penyu-penyu yang ditemukan mati merupakan jenis penyu sisik. “Setelah dibedah tidak ada luka atau rusak fisik pada karapas, kepala, kaki, dan tangan dan terdapat beberapa jenis makanan dalam lambung yang masih kategori normal,” kata Ari.

Menurutnya dibutuhkan uji laboratorium untuk mengetahui apakah ada paparan zat kimia yang menyebabkan kematian penyu-penyu tersebut.

Ada sampah plastik

Sementara itu Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung Donal Hutasoit mengatakan dari dua bangkai penyu yang diserahkan warga, saat dilakukan pembedahan ditemukan adanya sampah plastik di dalam perut penyu. “Ada sampah plastik dalam tubuh penyu serta makanan alami lainnya sehingga penyebab kematian yang pasti harus diperiksa secara lengkap terkait unsur kimia yang masuk ke tubuh penyu,” kata Donal.

Pihaknya mengaku kesulitan untuk pemeriksaan lebih lanjut karena keterbatasan peralatan laboratorium di BKSDA untuk memeriksa kandungan unsur kimia di dalam bangkai penyu-penyu tersebut.