30 Menit melacak Illegal Fishing

0
285

Pemerintah Indonesia menggandeng AFD (Agence Francaise de Deppelopement), sebuah badan Pemerintah Perancis yang bergerak di bidang pembangunan. Bersama badan tersebut, Pemerintah Indonesia membangun proyek INDESO (Infrastructure Development for Space Oceanography). Teknologi  ini merupakan fasilitas infrastruktur, menggunakan satelit yang memungkinkan pengamatan secara global pada skala spasial untuk memonitor penangkapan ikan secara illegal.

 

Kerja sama ini sebenarnya sudah dirintis sejak 2012 dan rencananya akan mulai diaplikasikan secara full pada 2015. Lalu, bagaimana dengan pembiayaannya? Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan – Kelautan dan Perikanan (Balitbang-KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr. Achmad Poernomo, nilai investasi pembangunan infrastruktur teknologi kelautan dan perikanan ini sebesar 30 juta dolar AS. Sumber pendanaannya berasal dari pinjaman lunak (soft loan) dengan masa pengembalian selama 15 tahun. Serta, dana hibah atau grant dari Pemerintah Perancis. Pembangunan infrastruktur INDESO itu dipusatkan di Balai Riset Observasi Kelautan di Perancak, Bali.

Proyek teknologi penginderaan perairan yang akan berlangsung selama tiga tahun ini tentu saja tidaklah sederhana. Ada beberapa target yang menjadi kegiatan utama proyek ini yang harus dilakukan. “Ada dua kegiatan utama dalam proyek ini,” ujar Poernomo. “Pertama, pembangunan ground station, atau satellite reception, ditambah fasilitas datanya,” ujarnya lebih lanjut. Dan, yang kedua, tutur Poernomo, adalah pengembangan infrastruktur computing untuk pemodelan oceanografi dan hayati laut. Melalui dua infrastruktur pendukung utama itulah teknologi INDESO akan bekerja, mendeteksi kondisi perairan di Indonesia.

Secara global, infrastruktur ground station dengan satelit penginderaan jarak jauhnya, mengimplementasi dua peralatan penting yang canggih, masing-masing optik dan juga radar. Instrumen tersebut mampu menghasilkan resolusi yang sangat tajam, mulai dari skala makro hingga skala yang cukup detil, 1 : 2.000. Kemudian, infrastruktur computing. Perangkat yang berguna sebagai instrumen pemodelan oceanografi dan hayati laut ini menerapkan tidak hanya pendekatan secara fisik, melainkan juga biologi. Kombinasi kedua performa rasanya tidak perlu lagi diragukan, dan diyakini akan mampu menghasilkan secara optimal sesuai harapan.

Manfaat riil

Menyinggung soal keuntungan, teknologi INDESO pastinya tak perlu diragukan lagi. Dari sisi performa, seperti sudah diulas sebelumnya, produk ini cukup andal. Dengan teknologi penginderaannya yang canggih, INDESO diprediksi mampu meng-cover wilayah perairan Indonesia yang begitu luas dengan karakteristis yang cukup beragam. Dengan performa seperti itu bukan mustahil perangkat tersebut akan mampu menghemat anggaran dalam jumlah yang signifikan. Asal tahu saja, alat ini bisa melihat migrasi ikan dan kapal dari laut Filipina hingga Australia. Jadi, dengan teknologi ini dapat diketahui potensi ikan berasal sehingga kita tidak akan menghambur-hamburkan BBM. Bandingkan, jika pengawasan perairan yang begitu luas ini diserahkan pada pesawat tanpa awak atau drone, berapa rupiah kocek yang harus dirogoh pemerintah untuk pengadaan sebuah drone yang harganya setinggi langit. Jadi, konkretnya, dengan biaya relatif lebih murah, perangkat ini mampu memberikan hasil yang maksimal.

Secara umum INDESO merupakan program yang didesain untuk memantau kondisi perairan Indonesia. Tak terkecuali juga termasuk unsur-unsur biogeokimia dan ekosistem, melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam implementasiannya. Ini sekaligus pula untuk memperketat pengawasan terhadap aksi pencurian ikan, serta melindungi kekayaan biodiversitasnya. Berdasarkan informasi, dengan teknologi ini pencuri ikan atau Illegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing bisa terdeteksi hanya dalam 30 menit saja. Mengagumkan!

Bukan itu saja. Perangkat ini ternyata bisa dimanfaatkan untuk melakukan tugas lain. Menurut Achmad Poernomo, teknologi INDESO bisa mengamati tambak udang dan inventarisasi lokasi yang baik untuk tambak sejenis, termasuk perairan untuk budidaya rumput laut, serta dapat juga digunakan untuk mendeteksi tumpahan minyak. Tentu saja, dari perangkat yang sarat akan keunggulan tersebut ada target yang ingin dicapai. “Implementasi dari aplikasi tersebut diharapkan dapat membantu upaya pemerintah dalam membangun perekonomian yang harmonis dengan lingkungan, serta dalam menentukan arah kebijakan untuk mitigasi bencana alam,” pungkas pria yang akrab dipanggil Pak Ipung ini.

 

Agus a. abdullah